
Elemen tipografi Arab dalam interior—The Typographic Matchmaking in the City: Terowongan Hamsa oleh Erik van Blokland, Pascal Zoghbi & Joumana Al Jabri.
Percakapan kecil dengan subtema memperluas kemampuan berbahasa asing terjadi siang itu antara saya, Fredy (graphic designer NGI) dan Mas Alex (editor NG online). Tidak lupa diselingi suapan-suapan ikan asam manis, rolade, ayam kecap dan sup jagung, subtema bahasa asing ini muncul daripada dikarenakan oleh karena mengingat adanya… tema utama tentang kepergian Mas Alex ke Taiwan yang akan datang.
Dengan wajah yang oriental, Mas Alex mengaku agak malu setiap kali orang mengajaknya mengobrol dalam bahasa Mandarin. Walaupun koneksi antara sepeda dan bahasa Perancis masih absurd, tetapi bahasa yang sexy itu menjadi pilihan Fredy. Kalau saya, dengan iseng menjawab tertarik untuk memperdalam bahasa Arab!
Terlahir dengan agama Islam membuat saya familiar dengan bahasa dan tulisan kitab suci kami. Lima tahun mengemban ilmu di SMP dan SMA Islam yang mempunyai mata pelajaran bahasa Arab, tidak pula membuat saya tertarik untuk memperdalamnya. Justru mungkin karena tidak pernah ada ketertarikan, di situlah tiba-tiba aksara Arab yang mempunyai kemiripan bentuk dengan cendol itu terbersit di benak saya. Tanda baca nya yang terbentuk dari ragam titik dan garis ikut pula meramaikan—seperti tambahan bulir-bulir selasih dan irisan belewah segar—ikut berenang bersama cendol dalam segelas kuah sirup manis imajinasi visual saya.
Ke-Arab-an tidak berhenti di situ saja. Dengan sangat kebetulan saya mendapatkan link untuk sebuah lomba design yang berhadiahkan beasiswa penuh dari universitas seni di Qatar. Website-nya bilingual—bahasa Inggris dan Arab—dengan design clean nggak neko-neko berpalet warna dasar Cyan Magenta Yellow Key/blacK, semuanya terkesan modern minimalist, dan tipografi Arab modern-nya yang paling menarik perhatian. Font dengan lengkungan dinamis tanpa perbedaan garis tebal tipis, inilah Arabic sans-serif fikir saya.

Tipografi Arab modern—http://www.qatarcontest.com

Browsing lanjutan menggiring saya untuk bertemu banyak contoh pengaplikasian tipografi arab dalam design. Salah satunya ini—poster hitam putih karya Davina Mouawad untuk pertunjukan teatrikal Lebanon “Mahwouss”—yang terkesan underground dan gelap mengingatkan saya pada sebuah film animasi hitam putih Persepolis yang menceritakan tentang suara hati wanita muda Iran di masa revolusi Islam (film ini juga wajib ditonton! :D).
Perkembangan tipografi dalam bahasa Arab ini cukup mengejutkan saya. Saat kuliah beberapa tahun lalu, kawan-kawan yang berasal dari negeri unta mengaku jauh-jauh belajar design di luar negeri karena keterbatasan norma agama membuat design kurang berkembang, juga susahnya mengaplikasikan bentuk aksara yang tidak biasa.
“Pengaplikasian bentuk aksara yang tidak biasa? Ah alasan… Buktinya Cina dan Jepang bisa,” tantang saya. “Mereka tidak ada batasan norma, tapi tunggu saja revolusi design Arab akan datang! HAHAHA,” jawab mereka dengan tawa menggelegar dan semangat menggebu—terlihat dari tegangan urat-urat nadi leher, kerutan-kerutan ambisi di antara alis tebal mereka, ahhh..fierce!
Mungkin sekarang-sekarang inilah dimulainya gerakan baru dalam dunia design negeri seribu satu malam. Salah satu blog dengan contoh-contoh tipografi Arab terbaik menurut saya, bisa dilihat di sini—segelas racikan es cendol yang pas untuk Anda!